Sejarah Desa

Menurut Ibu Sadikem umur 92 Tahun (Ibu dari Bapak Sukatno, S.Pd Wakil Ketua LPM Desa Kulurejo) menceritakan: Pada suatu hari datang seseorang menghampiri sebuah rumah kecil di Kulur, dan disambut dengan hangatnya oleh Ki Kulur, namun istirahatnya tidak begitu lama hanya saja ia mengamati-amati keadaan Kulur, lalu ia berkata Kulur ini besok akan menjadi daerah yang Rojo Toto. Maka orang keraton tersebut memberikan sebutan Kulurejo. Lalu Ki Kulur juga sepakat apabila Kulur itu dijuluki Kulurejo.

Tempo hari Ki Kulur bertemu Wali Songo, entah Wali siapa tidak tahu, para Wali itu akan memmbendung sungai kecil yang membujur ke utara dari arah Kulur ke Semin. Sungai itu akan dialihkan arusnya dari Dusun Tempursari yang sekarang diarahkan ke arah barat daya tembus wilayah Bulurejo, tepatnya dusun kecil yaitu Dusun Duren. Namun Eyang Kulur mengingatkannya, sungai itu jangan dialihkan arusnya, nanti anak cucu saya apa yang akan dimakan kalau tidak ada sungainya atau aliran airnya? Namun terjadi argumentasi suara/debat. Setelah debat suara tidak ada yang mengalah diantaranya terjadi pecah belah. Dan adeg sayembara siapa yang menang, siapa kalah harus merasa kalah.
Pada saat itu juga terjadi adu kekuatan di sebuah sungai Sambeng yang cukup dalam. Namun apa yang terjadi wali itu ternyata kalah kuat dan wali itu diangkat dan dimasukkan ke kedung beberapa kali sampai megap-megap. Dan wali itu mengaku kalah. Kekalahannya itu yang yang akhirnya arus sungai tidak jadi dialihkan, tetap pada semula. Tetapi wali itu mengeluarkan kata-kata atau penganta-anta dengan logat jawa : “……..Kanthi aku mbok lelep-lelpke kedung nganti megap-,megap, mulo anak putumu besok yen setengah umur akeh-akehe padha megap-megap kaya aku iki, Wis kaya ngono ngomongku…….”.

Lain daripada itu juga, Eyang Kulur pada suatau hari mencari ikan sampai pada Kedung Rong namanya, tepatnya sebelah selatan Dusun Gloto, Bulurejo, Nguntoronadi. Sampai pada kedung itu, Eyang Kulur kesengsem saking banyaknya ikan dia masuk pada suatu “Rong”. Sehingga mencapai waktu di dalam rong itu ± 40 hari lamanya. Di dalam rong itu Eyang Kulur berjalan terus kemana arahnya tidak tahu, berjarak 2 km dari arah kedung tadi hanya mengikuti kehendak hatinya. Namun pada keesokan harinya sudah mencapai 40 hari sampai pada suatu tempat yaitu wilayah Beji, Kec. Nguntoronadi tepatnya sebelah tenggara Dusun Gubugan, dia tahu ada cahaya matahari, lalu terus dia ikuti arah cahaya itu, ternyata Eyang Kulur dapat keluardari rong itu.

Sesampainya pada cahaya tadi ternyata Eyang Kulur bisa keluar dari rong itu. Lalu , dia melihat kanan kiri, depan belakang, ternyata disitu ada Ayam Alas. Dan Eyang Kulur mengamati bekas apa itu? Ternyata cahaya matahari tadi akibat bekas Ayam Alas mencari makan dengan menggunakan kakinya. Kalau istilah jawanya cakar-cakar, maka lama kelamaan semakin dalam sehingga bisa untuk jalan Eyang keluar rong tadi.
Karena adanya Ayam Alas begitu, maka Eyang Kulur mengucapkan wewalu kepada anak cucu Kulur. Beliau berkata : “……Anak putuku kabeh wae, nganti dun turunku ke pitu, ora keno mangan iwak Ayam Alas! Sopo kang nglanggar keno resikone……”.

Urut-urutan Kepala Desa sebatas pengetahuan orang tua kami:
1. KARTONOMO
2. DEN KINO RAHARJO (Keluarga Demang)
3. MARTODISASTRO
4. SOETARMAN (Keturunan Eyang Kulur yang ke Tujuh)
5. SOETARTO (Cucu Demang Taru Sukarso Sumberagung)
6. SUPANTO
7. ARIS HARTANTO, SE (Kades saat ini, Keturunan Demang Taru Sukarso Sumberagung)

Begitu sekilas pengetahuan kami, tidak lepas orang di atas kami, tanpa adanya panyengkuyung dari orang lain kami tidak bisa berbuat apa-apa.