Ibu-Ibu Dusun Ngropoh Desa Kulurejo Jalin Silaturohmi Lewat Kerja Bhakti

“Tiiiinnnn…” Tiiiinnnnn….” Tiiiinnnnn….” Suara klakson terdengar saling menyusul dari pengendara   yang melintasi Jalan Raya Tirtomoyo-Wonogiri km 6 tepatnya di Dusun Ngropoh Desa Kulurejo. Pasalnya hari ini Minggu 1 April 2018 di ruas jalan tersebut sedang terjadi aksi dari Ibu-Ibu warga Dusun Ngropoh. Dari kejauhan nampak sekitar 40 Ibu-ibu lengkap dengan peralatannya berada di kanan kiri jalan. Bukan aksi demo tentunya, tetapi suatu agenda rutin mingguan yang sudah lama berjalan yaitu aksi “kerja bakti” kebersihan lingkungan. Para pengendara yang melintas membunyikan klakson hanya sekedar menyapa ataulah mengingatkan Ibu-Ibu supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Agenda rutin kerja bakti Ibu-ibu Dusun Ngropoh Desa Kulurejo pada hari minggu difokuskan untuk kebersihan ruas jalan Raya Tirtomoyo-Wonogiri yang melintasi dusun tersebut. Agenda ini merupakan suatu bentuk kesadaran dari warga Dusun Ngropoh Desa kulurejo yang lahir dari masing-masing pribadi. Meskipun Ibu-Ibu ini berasal dari berbagai profesi tidak ada sekat di antara mereka. Bersatu padu, saling bahu membahu, memeras tenaga dan keringat bersama   untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Kegiatan ini menurut salah satu warga bukan hanya sekedar kerja bakti tetapi dibalik itu ada makna lain yang lebih besar yaitu sebagai “ajang silaturohmi”. Tidak salah memang setelah 1 minggu Ibu-Ibu sibuk dengan dunia masing-masing, bahkan ada yang berangkat pagi pulang malam. Sangat dimungkinkan hubungan komunikasi antar tetangga menjadi sangat berkurang. Terbukti, dari pengamatan penulis saat berlangsung kerja bakti celoteh renyah dan gelak tawa terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Wajah-wajah gembira ria nampak diantara mereka. Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika tidak ada kegiatan semacam ini.

Kadus Ngropoh Bapak Haryadi, pria berusia 36 tahun ini membenarkan bahwa kegiatan  kerja bakti Ibu-Ibu sudah menjadi agenda rutin di Dusun Ngropoh. Namun demikian menurut Pria berperawakan jangkung ini banyak kendala dalam melaksanakan program, “derasnya arus moderenisasi dan pola hidup konsumtif sedikit demi sedikit akan mengikis budaya leluhur yang sarat dengan makna ini, ada beberapa anggota masyarakat yang sudah berfikir kerja adalah uang”. Beliau melanjutkan untuk menghidupkan semangat kerja bakti warganya dia selalu melakukan komunikasi dan mendengarkan masukan-masukan dari warganya.

Tidak jauh berbeda Kades Kulurejo  Bapak Aris Hartanto SE berharap agar warisan leluhur ini selalu dijaga agar kekeluargaan dan sosialisasi antar warga masyarakat dapat berjalan lebih baik. Menurutnya kegiatan kerja bakti  yang sangat lekat dengan karakteristik masyarakat Indonesia kini sudah  mulai memudar. Tidak jarang mereka yang memiliki waktu luang satu dua hari dalam seminggu memilih menggunakannya untuk kegiatan pribadi.

2 Comments

Tinggalkan Balasan